Langsung ke konten utama

Peran Pekerja Migran dalam Literasi 

 
 
 
Mendengar kata tenaga migran, tentunya satu hal yang tidak asing lagi bagi kita. Saat ini keberadaan tenaga migran Indonesia memiliki peluang besar dalam dunia literasi.
 
 Pekerja Migran Indonesia adalah warga negara Indonesia (WNI) baik laki-laki maupun perempuan yang bekerja di luar negeri dengan jangka waktu tertentu berdasarkan perjanjian kerja melalui prosedur penempatan PMI (Pekerja Migran Indonesia).
 
Pekerja Migran Indonesia sebagian besar didominasi oleh tenaga kerja wanita yang bekerja di sektor non-formal. Biasanya mereka bekerja sebagai asisten rumah tangga, perawat lansia  ataupun pengasuh anak.
 
 Namun, hal ini tidaklah mengganggu produktivitas  mereka untuk mengembangkan diri. Salah satunya adalah pekerja migran yang ada di Singapura. Mereka bisa melanjutkan pendidikan di sela-sela waktu senggang ( libur) tanpa mengganggu aktivitas mereka. Justru hal ini menjadi penyemangat bagi mereka untuk mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
 
Sedangkan pekerja sektor formal, biasanya didominasi oleh pekerja pria yang rata-rata bekerja di sektor industri dan perusahaan-perusahaan pengolahan barang jadi.
 
Apakah tujuan dari pemberdayaan  para pekerja migran dalam bidang literasi atau lainnya?
 
Tujuannya adalah agar mereka memiliki kecakapan, keterampilan, serta memiliki pemahaman  literasi di dunia yang kian kompleks, memiliki persaingan yang kompeten serta bisa meraih kesuksesan ketika kembali ke tanah air.
 
Pekerja migran yang terjun ke dunia literasi mereka memiliki semangat membara untuk menuangkan apapun dari kata-kata sederhana menjadi mahakarya yang akan membawa nama mereka menjadi ikon baru di dunia literasi digital.
 
Hal  ini tentu saja tidak  mudah, mengingat mereka harus menyesuaikan diri dengan lingkungan/tempat  baru yang sangat berbeda dari tanah air. Mulai dari bahasa, makanan, adat, serta keyakinan  yang dimiliki.
 
 Seiring dengan perkembangan zaman
keberadaan tenaga kerja migran kita semakin mengalami peningkatan, dengan dibukanya kursus-kursus ketrampilan  serta sekolah lanjutan yang diadakan setiap off-day. Kursus-kursus maupun sekolah-sekolah tersebut menjadi salah satu sarana terbaik meningkatkan kualitas tenaga migran kita
 
Potensi serta  bakat literasi pekerja migran  ini kini menjadikan salah satu nilai tambah bahwa mereka tidak hanya mampu bekerja mengerjakan pekerjaan rumah, melainkan juga  menggali potensi terpendam yang nantinya akan menunjukkan kualitas mereka sesungguhnya.
 
Mereka adalah insan-insan milenial berdikari yang sangat dan harus diapresiasi kemampuannya. melalui beberapa event menulis, dari sinilah kita dorong terus agar mampu menciptakan karya sehingga bisa diwariskan dan  nama mereka abadi terkenang.
 
Salam literasi bagi para pejuang migran di tanah rantau.
 
Temanggung, 20 Januari 2026
16.04
 
Ditulis oleh: Nuris Fatmawati
( penulis dari Temanggung)
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis bukan Mata Pencaharian, Menulis Adalah Seni Kehidupan

Menulis: Lebih dari Sekadar Mata Pencaharian   Seringkali, kita memandang profesi penulis sebagai pekerjaan yang menjanjikan penghasilan besar. Namun, jauh sebelum angka-angka di rekening bank, menulis sesungguhnya merupakan sebuah perjalanan batin. Ia adalah wadah untuk menuangkan seluruh emosi, pengalaman, dan renungan kita—keluh kesah, suka cita, bahkan kegelisahan terdalam—menjadi sebuah narasi yang bermakna.   Menulis bukanlah sekadar mencari nafkah; ia adalah proses transformasi. Kata demi kata yang kita rangkai, menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman pribadi dengan dunia luar. Kita mencurahkan isi hati, dan melalui tulisan, pesan-pesan tersebut tersebar, menyentuh, dan bahkan menginspirasi banyak orang. Bayangkan, sebuah cerita pendek yang kita tulis dapat memberikan hiburan, sebuah esai mampu membuka wawasan, atau sebuah puisi mampu menyentuh sanubari pembaca.   Tulisan kita, walau mungkin awalnya hanya untuk diri sendiri, bisa menjadi cer...